PERSYARATAN ADVANTRA+PID PII NTB

Persyaratan Advanced Training dan Pendidikan Instruktur Dasar

Pelajar Islam Indonesia NUSA TENGGARA BARAT

 

A.  Advanced Training

1.   Pernah aktif di Pengurus Daerah minimal 1 periode penuh dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah dibuktikan dengan surat keterangan dari PW

2.   Telah lulus mengikuti Intermdiate Training (INTRA) minimal 5 bulan terakhir

3.   Telah lulus mengikuti salah satu kursus pasca Intermediate Training dan atau Ta`lim Wustho

4.   Mendapat surat mandat dari Pengurus Wilayah

5.   Mampu membaca Al-Quran dengan fasih (Tajwid, makhraj huruf) dan lancar

6.   Telah berumur minimal 17 tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat

7.   Membuat tugas tulis berupa makalah dan resensi secara orisinil dan mampu dipertanggungjawabkan dihadapan tim instruktur

a.   Makalah:

  • Tema Makalah (pilih salah satu), antara lain:

1.   Menggagas sistem organisasi yang mampu menjawab tantangan zaman ( antara idealita dan realita)

2.   Keunggulan Kreativitas Kader dalam Persfektif Budaya Organisasi

3.   Gerakkan Kultural sebagai upaya penguatan Basis Sosial PII

4.  Membangun kesadaran ideologi sebagai basis transformasi sosial

5.   quo vadis organisasi pemuda (Menggugah kembali semangat organisasi pemuda islam dalam menumbuhkan SDM Cendekia dan Islami.

6.   Posisi Spiritualitas dalam Kebudayaan dan Peradaban Kontemporer

7.   Etos kerja: membangun kemandirian masyarakat islam Indonesia

  • Minimal 15 Lembar (dihitung dari pendahuluan, Isi dan Penutup)
  • Minimal memiliki 7 referensi buku yang sesuai dengan tema
  • 1,5 spasi, Tims New Roman 12, Kertas A4

b.   Daftar Buku Yang di Resensi (pilih salah satu), antara lain:

 

NO

JUDUL

PENGARANG

PENERBIT

1 Prophetic Intelligence (Kecerdasan Kenabian) HAmdani Bakran Adz-Dzakiey Pustaka Al Furqan
2 Semua Berakar pada Karakter Ratna Megawangi Lembaga Penerbit FE UI
3 Dua Wajah Islam Stephen Sulaiman Schwartz Blantika, The Wahid Institute
4 Kepribadian dalam Psikologi Islam Dr. H. Abdul Mujib, M. Ag Rajawali Pers
5 Menanam Sebelum Kiamat Fachruddin M Mangunjaya, dkk Yayasan Obor Indonesia
6 Menjadi Manusia Pembelajar Andreas Hareffa
7 Islam Sebagai Ilmu Kuntowijoyo Mizan
8 Kiri Islam “Antara Modernisme dan Postmodernisme (Telaah Kritis Pmikiran Hassan Hanafi)” LKIS
9 Filsafat Etika Islam Amin Abdullah Mizan
10 Muqaddimah Ibnu Khaldun Pustaka Firdaus
11 Islam Warna Warni John. L.Esposito. Paramadina
12 Dari Gerakan ke Negara H. M. Anis Matta Rabbani
13 Mereka yang Telah pergi Al Mustasyar Abd. Al Aqil Al- I1tisham

Cahaya Umat

14 Tasauf Modern Hamka Pustaka Panji Mas
15 Wawasan Islam H. Endang S. Anshari, MA Gema Insani Press
16 Gerakan Pelajar Islam di Bawah Bayang-Bayang Negara, Djayadi Hanan. UII Press Yogyakarta.
17 Sirah Nabawiyah. Dr. Said Ramadhan Al-Bunthy. Rabbani Press.
18 Teologi Pembebasan. Lowly M INSIST press. Jakarta.
19 Prinsip-Prinsip Pendidikan Rasulullah. Prof. DR. Alwi Al-Maliki. Gema Insani Press. Jakarta.
20 Orang Miskin Dilarang Sekolah. Eko Prasetyo. Resist Book.
21 Menuju Jamatul Muslimin, “telaah sistem jama’ah dalam gerakan Islam”. Rabbani press. 2001. Jakarta.
22 Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Ismail Raji Al-Faruqi. Pustaka Bandung 2007.
23 Wajah Peradaban, “Dari Hegemony Kristen Ke Demokrasi Sekuler Liberal”. Adian Husaini. Gema Insani Press . Jakarta
24 Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam. DR Fathi Yakan. Al-Hishon. 2007. Jakarta.
25 Filsafat Pendidikan Islam. Dra. Zuhairani, dkk. Bumi Aksara. Jakarta.
26 Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular”. Jujun S. Suria Sumantri. Pustaka Sinar Harapan. 2000. Jakarta.
27 Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. M. Abdul Karim.
28 Islam Sebagai Ilmu. Kuntowijoyo. Mizan. Jakarta.
29 Petunjuk Jalan Sayyid Qutb Gema Insani Press
30 Al – Islam Said Hawa Gema Insani Press
31 Kuliah tauhid DR. Immadudin Abdulrahim Gema Insani Press
32 Kebhinekaan masyarakat Indonesia . Budiono kusumoharmidjojo Grasindo
33. Satu agama atau banyak agama Muhammad leghaussen Lentera
34. Filsafat Islam (sebuah pendekatan tematis) Oliver Leaman Mizan
35 Genealogi Intelegensia Muslim Yudi Latif Teraju
36. Renaisans Islam Joel L. Kraemer Mizan
37. Islam, Doktrin dan Peradaban Nurcholis Madjid Paramadina
38. Kebhinekaan masyarakat Indonesia Budiono kusumoharmidjojo Grasindo
39. Satu agama atau banyak agama (kajian tentan liberalisme dan pluralisme agama) Muhammad leghaussen Lentera
  • Minimal 5 Lembar
  • 1,5 spasi, Times New Roman 12, Kertas A4
  •    *Jika tidak menemukan buku tersebut diatas bisa meresensi buku
    karangan; Kuntowijoyo, Jalaludin Rahmat, Nurcholis Madjid, Hasan
    Hanafi, Sayyid Hussein Nasr, Sayyid Qutb, Yusuf Qardawi, Amin Rais,
    Abdurahman Wahid, Ali Syariati dan pemikir muslim kontemporer yang
    lain

8.   Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 tahun kedepan

9.   Mengirim curriculum vitae, makalah dan resensi (H-5) via email kaderisasipbpii@gmail.com

10. Membawa buku-buku tentang filsafat, tasawuf, pemikiran dan agama, pendidikan, sosial, budaya, politik, ekonomi, sejarah, Ke-PII-an, diutamakan buku-buku yang diwajibkan menjadi resensi (minimal 10 buah buku)

11. Membayar sumbangan wajib perseorangan (SWP) sebesar Rp. 75.000,00 dan sumbangan wajib    organisasi (SWO) sebesar Rp. 25.000,00

 

B. PERSYARATAN PID

1.   Telah mengikuti Leadership Advance Training (LAT) Pelajar Islam Indonesia

2.   Telah mengikuti kursus pemandu dan / atau mualim

3.   Membuat essay, dengan tema (pilih salah satu):

I. Seandainya Saya Menjadi Instruktur PII; sebuah Harapan, Pemenuhan Kompetensi, serta Tanggungjawab Keummatan

II.   Proyeksi Diri sebagai Seorang Instruktur, Tahun 2012-2014; Sebuah Keterbatasan diri, Kebutuhan Organisasi dan Tantangan Ummat

4.   Tulisan dibuat pada kertas A4 dengan ketentuan : Font 12 point, Times new Roman, Spasi 1,5 dan jumlah halaman minimal 5 halaman.

5.   Membuat satu design kurikulum dan atau modul kursus pra batra karya sendiri dan belum pernah digunakan,

6.   Menyetujui kontrak sebagai seorang Instruktur PII

7.   Membuat kliping seputar dunia pendidikan dan pelatihan serta berita aktivitas PII dimasing-masing wilayah dilengkapi dengan content analisisnya, minimal 5 lembar

8.   Membawa buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan

9.   Lancar dan Fasih membaca Al-Qur’an (Tajwid dan makhroj huruf)

10. Membawa mandat dari Pengurus Wilayah bersangkutan

11. Mengirim curriculum vitae, essay dan silabus pra batra (H-5) via email kaderisasipbpii@gmailcom

12. Membayar sumbangan wajib perseorangan (SWP) sebesar Rp. 25.000,00 dan sumbangan wajib organisasi (SWO) sebesar Rp. 25.000,00

Nb: nomor kontak panitia yang bisa dihubungi

  1. Rif’atul wahidah (aida) 085239869493/081805067245
  2. Annisa rahmani (anis) 085792044952

untuk lebih lengkapnya bisa di download disini

Persyaratan +DRH

TOR

surat resmi

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under pendidikan

PERSYARATAN INTRA DAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

PERSYARATAN
LEADERSHIP INTERMEDIATE TRAINING (LIT)
PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)
NUSA TENGGARA BARAT
Mataram, 25 – 30 Desember 2011

A. Persyaratan Administrasi
1. Tercatat sebagai kader PII yang aktif dan atau bersedia aktif di kepengurusan PW/PD/PK (usia minimal 15 Tahun).
2. Telah lulus Leadership Basic Training (LBT) minimal 6 bulan dibuktikan dengan fotokopi sertifikat/surat keterangan dari Institusi PII yang memandatkannya.

4. Membawa surat mandat dari institusi PII yang memandatkannya dengan format keterangan sebagai berikut:

No Nama Institusi Jabatan Bln/Thn Pelaksanaan LBT Kortim LBT

5. Membayar Sumbangan Wajib Peserta (SWP) sesuai ketentuan dari panitia pelaksana.
6. Membawa foto kopi Kartu Pelajar/ KTP/SIM/KTM sebanyak 2 buah.
7. Membawa foto berwarna ukuran 3×4 sebanyak 3 buah.
8. Mengisi Daftar Riwayat Hidup (DRH) Peserta (terlampir)
9. Membawa perlengkapan pribadi.
10. Membawa Kamus Ilmiah Kontemporer.
11. Membawa Al- quran Terjemah.
12. Menghapal Qs. Al- Baqarah:177 dengan terjemahnya.
13. Bersedia memenuhi segala persyaratan yang telah ditentukan oleh TIM Instruktur LIT dan mengikuti proses pengujian persyaratan dan kelayakan sebagai peserta serta siap untuk dipulangkan jika tidak dapat memenuhinya.
14. Bersedia untuk melakukan proses tindak lanjut pelatihan (Kursus dan Ta’lim pasca Intra)

B. Persyaratan Utama
1. Membuat makalah minimal 6 halaman (isi) diketik pada kertas A4 spasi 1,5 menggunakan font Times New Roman size 11 setup atas, bawah, kiri, kanan 4-3-4-3 cm dan minimal 3 referensi dengan pilihan tema :
a. Gerakan Pelajar ke Masyarakat; Membentuk Masyarakat Muslim, Cendekia, Pemimpin
b. Dari Sekolah ke Negara; Membangun Gerakan Pelajar Hari Ini, Pemimpin Hari Esok
c. Budaya Konsumtif Pelajar (Ancaman Kapitalisme Global) dan Solusinya
d. Gerakan Membangun Kreasi dan Prestasi Kader PII; Mewujudkan Pelajar Cerdas Berprestasi Pemerhati Umat
e. Kesolidan PII Suatu Langkah Awal Membangun Kesolidan Umat
f. Internalisasi Nilai Perjuangan; Membangun Loyalitas dan Militansi Kader PII
g. Langkah dan Strategi Rekruitmen 1000 Kader Daerah

Makalah dibuat dengan format judul, pendahuluan, latar belakang, isi/pembahasan dan kesimpulan.
2. Membuat satu essay dengan tema “Aplikasi Falsafah Gerakan dan Khittah Perjuangan pada Diri Kader”

Essay diketik pada kertas A4 spasi 1,5 menggunakan font Times New Roman Size 11 setup atas, bawah, kiri, kanan 2-2-3-2 minimal 2 halaman.
3. Membuat satu resensi diketik pada kertas A4 spasi 1,5 menggunakan font Times New Roman size 11 setup atas, bawah, kiri, kanan 3-3-3-3 cm dari buku-buku berikut ini :
a. Psikologi Komunikasi (Jalaludin Rahmat)
b. Gerakan Pelajar Islam di Bawah Bayang- Bayang Negara (Djayadi Hanan)
c. Tasauf Modern (Buya Hamka)
d. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Buya Hamka)

4. Membaca dan membawa buku- buku tentang: Pendidikan, Kebudayaan, Politik, Hukum, HAM, Gerakan, Sosial, Ekonomi, Pengembangan Masyarakat, Lingkungan, Tasawuf, Akhlak, Aqidah, dan Teknologi.

Mataram, 06 Desember 2011
Team LIT

Keterangan :
1. Softcopi (file) Makalah, Essay, Resensi dan DRH di back-up ke CD atau Flash Disk dan dikumpulkan saat interview.
2. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Team di 081805309394, 087863592607.

untuk lebih lengkapnya bisa mendownload file persyaratan dan DRH disini.

PERSYARATAN >>> DOWNLOAD
DRH >>> DOWNLOAD

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under pendidikan

MEMBANGUN RUMAH UNTUK PERADAN

Melihat dinamika organisasi belakangan ini, orang yang berfikir pun mulai mengutarakan pertanyaan. Pertanyaan yang timbul mengenai PII Wati misalnya apakah eksistensi PII Wati sekarang masih dibutuhkan, untuk apa PII Wati itu masih dipertahankan dalam bentuk yang otonom, kenapa tidak disatukan saja dengan badan induk, mengapa kader PII Wati sedikit, dan sebagainya. Berikut ini merupakan hasil diskusi untuk mengkaji pertanyaan-pertanyaan diatas.
Secara tidak langsung, kegiatan–kegiatan di PII Wati serupa dengan kegiatan-kegiatan di BI, lagipula ketika dibentuk pertama kali tujuan dari PII Wati adalah mengisi kekosongan kader PII wan yang banyak di bui (ini pun masih harus dikaji kembali). Lalu ada pula yang mengatakan pemisahan seperti ini merupakan pengaruh dari faham feminisme.
Sekarang ini PII Wati tidak memiliki kegiatan yang populis seperti misalnya brigade dengan kegiatan intelegennya dan BI dengan kaderisasinya yang merupakan jantung dari kegiatan PII. Untuk PII Wati sendiri kegiatan kursus menyulam, memasak, atau menjahit sudah bukan lagi kegiatan yang populis. Salah satu masalah di PII Wati adalah belum bisa mengemas kursus menjadi sesuatu yang populis. Mungkin ini salah satu kekurangan kader PII wati yang ada di kepengurusan yang belum bisa menyaingi akselerasi zaman yang menuntut perempuan menjadi semakin praktis. Selain itu masalah utama yang ada di pii adalah masalah eksistensi dan juga misi. Masih banyak kader PII di daerah atau wilayah atau bahkan PB yang tidak paham eksistensi PII Wati dan mengapa PII Wati itu harus ada.
PII sebagai organisasi yang sangat peduli dengan pendidikan, paham betul bahwa fungsi pendidikan yang sebenarnya itu ada di keluarga. Pendidikan tidak bisa hanya diserahkan pada sekolah karena sekolah pun memiliki banyak kekurangan.
Sekarang ini sedang terjadi reduksi fungsi keluarga. Keluarga diserang dari segala arah dengan berbagai macam paham. Dalam kondisi ini peran perempuan dalam keluarga sangat penting. Jika dalam suatu keluarga istri tidak benar, bisa menyebabkan suami dan anaknya menjadi tidak benar. Jika sang anak kelak membangun keluarga, keluarga berikutnya pun menjadi tidak benar juga. Sehingga terbentuklah masyarakat atau peradaban yang tidak benar. Dari segi ini saja kita bisa menyimpulkan bahwa jika perempuan tidak benar, bisa menghancurkan masyarakat. Maka untuk membentuk peradaban yang benar, perempuan harus benar terlebih dahulu.
Ada yang mengatakan laki-laki pun bisa mendidik. Padahal fungsi pendidik itu lebih utama di perempuan. Jika memang lelaki juga bisa mendidik dengan kelembutan seperti perempuan, Allah yang Maha Besar tidak perlu menciptakan perempuan. Karena Allah pun bisa jika ingin mennciptakan laki-laki yang dilengkapi dengan rahim untuk melahirkan dan kemudian membesarkan.
PII Wati berusaha membina dan menyiapkan pelajar putri untuk siap menjadi seoarang muslimah pemimpin. Kita ingin membentuk kader muslimah yang cerdas, sehingga dia tahu apa yang terbaik buat keluarganya. Tapi sekarang kecerdasan hanya dinilai dari kepintaran atau jenjang sekolah yang ditempuh, dan ini berimplikasi pada semakin banyaknya wanita karir yang lebih mengutamakan karir daripada keluarga. Padahal kan arti cerdas itu sendiri berkaitan dengan mengetahui sesuatu yang benar. Contohnya saja pada zaman rasulullah, Abu Jahal sebelumnya memiliki panggilan Abu Al Hakam atau bapak kebijakan, karena paling pintar. Tapi Al Quran mengatakan panggilah ia dengan Abu Jahal atau bapak kebodohan karena kebodohannya yang tidak mau menerima kebenaran,
Jika si Ibu cerdas, dia tahu bagaimana membesarkan anak. Si perempuan juga harus paham untuk apa dia menikah dan apa yang bisa dia lakukan bagi Islam. Tapi tidak ada sekolah yang membahas itu dalam kurikulumnya. Nah PII sebagai organisasi pembinaan, ketika sekolah formal tidak bisa diharapkan, disitulah PII harusnya tampil. Dalam kursus-kursus PII Wati kita ingin memasukkan konsep-konsep itu.
Selain itu mungkin konsep kursus untuk PII Wati harus diluruskan, karena kursus sebenarnya merupakan tambahan skill, dan ini tidak lagi berada dalam ranah skill atau keterampilan, tetapi ideologi, idealisme yang harusnya dimiliki setiap perempuan. Kita ingin memiliki ideologi sebagai seorang perempuan, kita ingin membangun rumah untuk peradaban. Ini merupakan misi PII Wati sehingga diharapkan setiap kader menginternalisasi ide ini dan menyampaikan kepada muslimah yang lain.
Memang masih banyak yang harus dibenah, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tetapi harapan selalu ada. Rumah untuk peradaban…. 

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under pendidikan

HARBA KE-64, PII NTB GELAR TALK SHOW DAN DONOR DARAH

Dalam memperingati Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia Ke-64 (HARBA PII KE-64), yang mengambil tema “Optimalisasi PII Menuju Gerak Da’wah yang berkesinambungan”. PW PII NTB menggelar Talks Show dan Donor Darah. Talk Show yang dilaksanakan hari Sabtu 21 Mei 2011 yang dipusatkan di Aula Panti Sosial Tresna Werdha Mataram ,mengambil tema “Pendidikan Karakter” Membangun Pelajar Muslim, Cendikia dan Pemimpin. Dengan tiga pembicara, pertama Drs. H.M. Husni Thamrin, M.Pd ( Anggota DPRD Kota Mataram ) dengan materi “ Pelajar Muslim Pembangun Peradaban Islam”. Kedua Firdaus Husen Nafarin, AMR (Ahli Sejarawan Muslim) Materi “Jejak Langkah Cendekiawan Muslim“ dan ketiga Syarif Almubarak ( Ketua PW PII NTB ) mengangkat tema “Pelajar Hari Ini, Pemimpin Hari Esok”. Kegiatan yang dihadiri oleh hampir 200 Orang peserta. Dikatakan oleh Ketua Panitia Faozanil Huda “ bahwa target dari kegiatan ini adalah dapat mensosialisasikan jalur dakwah dengan media Organisasi Pelajar Islam Indonesia kepada khalayak ramai dan merefleksikan kembali perjuangan PII seperti awal berdirinya.”

Sementara kegiatan Donor Darah yang dipusatkan di Taman Bumi GORA pada hari Minggu 22 Mei 2011, kegiatan ini yang disambut baik oleh masyarakat yang kebetulan setiap hari Minggu pagi Jalan Udayana atau Taman Bumi Gora Dipadati oleh masyarakat yang olah raga atau bersantai, dalam donor darah ini ada 50 Orang yang menyumbangkan darahnya. Adapun kegiatan ini diharapkan untuk menimbulkan dan menumbuhkan rasa kepedulian sosial khususnya untuk para Pelajar dan masyarakat pada umumnya untuk berbuat yang bermanfaat bagi Masyarakat. Salah satu peserta donor darah yang merupakan anggota DPRD kota Mataram, Drs. Husni Thamrin M.Pd berkomentar bahwa kegiatan ini cukup bagus, karena selama ini PMI selalu kekurangan stok darah. Kesadaran masyarakat akan donor darah masih sangat rendah. Kegiatan yang diadakan Pelajar Islam Indonesia (PII) ini sangat bermanfaat dan membantu PMI, kegiatan ini harus diadakan secara rutin. Donor darah ini tidak hanya bermanfaat bagi orang lain tapi juga bagi diri sendiri.

1 Komentar

Filed under pendidikan

Karakter Para Ilmuan Muslim

Sahabat imsa sekalian, pernah dengar istilah pendidikan karakter? Kalau sahabat imsa sekalian belum pernah dengar maka harus segera dicari tahu, karena ternyata Negara kita ini sedang mencoba membangun system pendidikan yang berbasis pada pendidikan karakter. Jadi jangan sampai sahabat imsa sekalian ketinggalan untuk mengetahui apa itu pendidikan karakter.
Untuk sedikit mengobati bagi yang penasaran, intinya pendidikan karakter itu adalah usaha untuk membangun pribadi-pribadi yang berkarakter melalui system pendidikan. Adapun yang dimaksud dengan karakter itu adalah sesuatu yang mempuunyai kualitas positif, seperti peduli, adil, jujur, hormat dan bertanggung jawab. Kualitas-kualitas itu dapat disebut dengan karakter yang mencerminkan kualitas positif yang dilakukan manusia itu sendiri.
Tema pendidikan karakter yang dirancang saat ini adalah “pendidikan karakter sebagai pilar kebangkitan bangsa”. Nah, tepat sekali sahabat imsa sekalian bahwa tanggal 20 mei nanti itu akan diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Tentu saja apabila kita ingin bangkit kembali maka yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah pembangunan kembali moral bangsa ini yang sudah mulai roboh melalui pendidikan moral dan karakter bangsa ini.
Kita, kaum muslimin pernah memiliki sejarah yang sangat gemilang dalam perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sejarah yang diakui oleh seluruh ummat manusia sebagai peradaban tertinggi yang pernah tercapai. Misalnya saja kaum muslimin telah mampu menggunakan minyak, lilin dan aspal yang membuat negeri Baghdad menjadi terang benderang saat orang-orang di Eropa masih berada dalam kegelapan.
Peradaban yang pernah tercapai oleh kaum muslimin ini bukanlah usaha yang terjadi begitu saja, ini adalah usaha yang dibangun dari generasi ke generasi yang dibangun berdasarkan etika-etika di dalam Islam dan keyakinan akan kekuasaaan Allah yang telah menjadikan kaum muslimin sebagai ummat terbaik (Khairu ummah).
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (TQS Ali Imran:110).
Keimanan pada Allah dan karakter yang menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar inilah yang kemudian menjadi bagian dari penyebab majunya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Islam. Ilmu pengetahuan ini pun digunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak, dibangun dari generasi ke generasi di mana orang-orang hidup dengan tenang dan tentram. Sehingga perkembangan ilmu dan teknologi pun menjadi sangat mungkin.
Para ilmuan-ilmuan islam dan pemimpin-pemimpin kaum muslimin bukanlah orang yang menggunakal ilmu pengetahuannya secara sembarangan dan seenaknya saja, sebab sikap seperti ini adalah sikap para dictator dan para penjajah. Seperti yang dilakukan oleh Negara-negera penjajah yang ada sekarang. Karena para ulama kita tak sudi untuk meniru dan tertarik dengan jalannya orang-orang kafir, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dalam al-quran.
“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.” (TQS Ali Imran:196)
Kaum muslimin di masa itu tidaklah tertipu dengan kebebasan yang ada pada orang-orang kafir, mereka memilih untuk mengedepankan hak-hak Allah. Dibandingkan dengan saat ini banyak kaum muslimin lebih memilih untuk mengikuti gaya-gaya yang dipelopori oleh orang-orang kafir. Sehingga tak jarang jika di sekolah kita masih melihat siswi-siswi yang tak menutup auratnya bahkan dengan sengaja memamerkannya dan itu tidak dipermasalahkan, kalau sudah seperti ini apa gunanya lagi pendidikan karakter?? Karakter seperti apa yang ingin kita bangun??

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under budaya, pendidikan, pergerakan

MERENUNGI MAKNA PENDIDIKAN

Sahabat IMSA sekalian, ujian nasional di tingkat sekolah menengah atas dan sekolah menengah pertama baru saja usai dibulan lalu. Berbagai berita kemudian muncul terkait dengan pelaksanaan ujian nasional di berbagai daerah yang ada di negeri ini. Tak bisa kita sangkal lagi bahwa ada sesuatu yang mengkhawatirkan terkait dengan pelaksanaan ujian nasional itu sendiri, yakni kebocoran jawaban yang terjadi di beberapa kawasan pelaksanaan ujian nasional.
Nah, Sahabat IMSA sekalian tahu tidak tanggal 2 Mei tahun ini kita akan kembali memperingati hari pendidikan nasional. Hari di mana seharusnya nasib pendidikan di negeri ini direnungi bersama. Ketika kita berkaca pada ujian nasional tampaknya ada yang salah pada orientasi belajar bangsa ini. Orientasi siswa dan guru yang mengarah pada mengedepankan nilai-nilai yang bersifat kognitif dan materi. Tapi, ternyata ada aspek lain yang kita lupakan, yaitu kejujuran dalam mengerjakan ujian nasional itu sendiri yang merupakan aspek imateri.
Sebagai seorang muslim, tentu saja harapan dari pendidikan kita semustinya adalah untuk mengembalikan citra diri kita sebagai seorang hamba Allah, bukankah Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya?
“dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku (TQS Adz Dzariyat:56)”
Andai saja kita sadar akan peran kita sebagai hamba Allah ini kita tak akan mau untuk melakukan hal-hal yang menyimpang. Maka seharusnya pendidikan di negeri ini adalah pendidikan yang mampu mengembalikan kesadaran kita untuk menjadi hamba Allah, pendidikan yang berbasis tauhid yang tidak hanya mengedepankan aspek-aspek kognitif tapi juga mental dan karakter siswa.
Ketika Sahabat IMSA ingin menjadi yang terbaik maka kita haruslah berusaha dengan maksimal dan berdoa kepada Allah Subhana wa ta’ala. Bukankah kita memang dianjurkan untuk berusaha menjadi yang terbaik?
“… Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan …” (TQS al Baqarah: 148).
Ini adalah perintah Allah bagi kita untuk bisa menjadi yang terbaik, namun bukan berarti kita harus menghalalkan segala cara. Nah, Sahabat IMSA sekalian kalau kita tengok kembali pendidikan di negeri ini kita akan menemukan bahwa terkadang kita menjadi yang terbaik dengan cara yang salah. Kita terlalu mengedepankan nilai materi tapi melupakan nilai rohaniah. Menjadi pintar tapi untuk membodohi, menjadi juara kelas tapi dengan cara yang tak pantas. Maka, dengan hari pendidikan saat ini mari kita kembali merenungi akan makna pendidikan, kembali membangun pendidikan bangsa ini sebagai pendidikan yang berbasis tauhid. Sebagaimana pesan Lukman al Hakim dalam mendidik anak-anaknya
“… wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (TQS Lukman: 13)… (by : shobir..)…

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under pendidikan

penyakit peradaban

PENYAKIT PERADABAN.
Apabila dunia ini di bawah hagemoni bangsa-bangsa manusia yang hanya percaya pada aspek materi dalam diri manusia, hanya berorientasi pada pemenuhan kesenangan dan kepuasan jaasmani, bangsa-bangsa yang hanya bekerja untuk kepentingan dunia semata, dan tidak beriman pada adanya kehidupan lain sesudah mati, maka dengan demikian perangai, falsafah hidup dan kecenderungan bangsa-bangsa penguasa itu akan mempengaruhi bentuk dan karakter peradaban dunia. Satu aspek sempurna, sedadng aspek lainnya pada diri manusia yang lebih substansial menjadi terbengkalai. Peradaban dunia menjadi makmur pada lembaran-lembaran mata uang dan busana-busana, dalam besi-besi, lahan-lahan peperangan dan pertempuran menjadi subur, pusat-pusat hiburan menjadi ramai, namun, di sisi lain, hati manusia menjadi hampa, jiwa menjadi kering. Pertalian antara suami dan istri menjadi renggang, anak tidak menghargai orang tua, orang tua tidak menyayangi anak, dan demikian pula hubungan antara saudara, antara sahabat. Peradaban dunia bagaikan seonggok besar bangkai tak bernyawa yang membuat mata orang gentar, jijik, dan ketakutan, namun pada hakikatnya jiwa menderita dan kesakitan, tersesat jalan dan mengalami keguncangan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under budaya, NTB, pendidikan, pergerakan